Sabtu, 20 Juli 2013

CINTA adalah...

 Tema : Tidak akan pernah sama.....dan akan selalu berbeda


Berbicara tentang cinta adalah sesuatu yang paling menarik didengar dan disimak. Kata orang “Tali Allah yang terbentang di alam semesta ini adalah cinta “.

Ibnu Sina berpendapat bahwa apapun jua yang ada di dalam alam ini tidak lepas dari cinta. Dapatlah diartikan tanpa rasa cinta kehancuran akan melanda alam ini, karena kebalikan dari cinta adalah “benci”. Sifat ini isinya adalah permusuhan. Permusuhan akan melahirkan peperangan, peperangan akan menghasilkan kehancuran dimana-mana.

Coba engkau renungi, bahwa cinta tidak akan bisa dilepas dalam kehidupan ini.

Menurut mereka mahluk yang Allah ciptakan adalah “berpasangan”. Api dengan air bukanlah berlawanan tetapi berpasangan. Dikebakaran besar pada hakekatnya si Api mengundang kekasihnya yang bernama air. Disaat air datang menyirami, maka apipun menyambutnya dengan kerinduan yang mendalam. Serentak mengepullah asap menjulang tinggi dengan letupan-letupan laksana simponi berpadu kasih si Air dan si Api diketinggian dalam gumpalan penuh rasa asyik dan ma’syuk.

Ini adalah merupakan sebuah gambaran bahwa keadaan yang berlawanan hakekatnya adalah pasangan yang serasi, harmonis dan indah. Kenyataan yang ada pada diri bukanlah penghalang untuk meraih dan memilikimu. Kekurangan dan kelebihan hakekatnya adalah kekasih yang berpadu menjadi sebuah kekuatan yang akan siap menghadapi dunia. 

Pahamilah ! bahwa hidup di dunia ini pada intinya adalah perjuangan, yaitu memperjuangkan sesuatu agar bertemu pada suatu titik temu. Yang baik menjadi yang lebih baik. Yang tidak cocok, menjadi cocok. Yang tidak sesuai menjadi bersesuaian. Perbedaan adalah isi dalam perjalanan hidup. Terutama pernikahan adalah penyatuan berbagai perbedaan watak, sifat, hobi, gaya hidup, selera dan rasa menjadi satu tujuan, satu jalan, satu bahtera dalam menuju kehidupan yang lebih baik.

Hal ini telah direalisasikan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya ;
“ Wahai Tuhan kami, karuniakanlah pada kami akan istri-istri dan keturunan yang dapat menyenangkan hati kami. Dan jadikanlah mereka sebagai panutan untuk orang-orang yang yakin”.

Pengartian ayat ini secara luas, adalah bahwa dalam perjalanan hidup manusia khususnya dalam mengarungi hidup berumah tangga

Wahai saudara – saudaraku sesama muslim. Ketahuilah bahwa dalam urusan ini, sangat sulit sekali kita menemukan pasangan yang sesuai dengan keinginan dan khayalan kita. Dikarenakan bagaimanapun sebelum adanya ikatan yang resmi yaitu perkawinan, kita tidak akan mengetahui kebenaran dari watak Perkecualian kita sudah mengenalnya cukup lama

CUPLIKAN Dari Buku DUNIA CINTA

insya Allah bermanfaat utk kawula muda yg sedang merajut cinta... n mungkin bagi yg lain,,,
ikuti terus... lanjutannya ada di Fp Satu Hati Banyak Cinta

AKAL & NAFSU Pada Manusia

9 AKAL 1 RASA pada PRIA plus BERANI 
1 AKAL 9 RASA pada WANITA plus MALU


Simak perkataan seorang wanita yang terkenal didunia islam yaitu Rabi`ah Al–Adawiyah berkata kepada Imam Abu Hasan Al–Basri, singkatnya :

“ Allah Ta`ala menciptakan pada diri laki-laki 9 { sembilan } akal dan 1 { satu } RASA serta diberikan sifat berani yang besar. Sedangkan pada wanita diciptakan 9 {sembilan } RASA dengan 1 { satu } akal serta sifat malu yang besar “.

SECARA LOGIKA n ALAMI jika laki-laki mempunyai sembilan akal dan satu nafsu, selayaknyalah mereka bisa menahan diri dalam hal urusan cinta atau menyenangi seseorang gadis. 
Tetapi kenyataannya lelaki banyak lepas kendali dan tak kuasa menahan diri dari gejolak cinta, syahwat dan nafsu terhadap wanita. 
Dengan kata lain kelebihan laki-laki untuk sembilan akal tersebut kala atau tidak berfungsi manakala satu nafsu itu telah terlibat oleh rasa cinta kepada sesuatu { gadis }. Ini disebabkan adanya SIFAT BERANI

Kemudian pada wanita yang terdiri dari sembilan nafsu (rasa) dan satu akal........ secara alami & seharusnya yang mempunyai nafsu besar atau tidak bisa menahan diri dalam menahan rasa (syahwat) . 
Kenyataannya wanita bisa menahan dan memendam gejolak hatinya. 
Mengapa..... ? hal ini disebabkan WANITA diberikan SIFAT MALU yang besar kepada dirinya.


bersambung........ ikuti terus sobat...

Nafsu Bermata Dua

BISIKAN atau NYANYIAN JIWA pada setiap manusia

Firman Allah Ta’ala :
“Demi jiwa (NAFSU) serta penyempurnaannya (ciptaan Allah), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan/bibit) KEJAHATAN (kefasikan) dan KEBAIKAN (ketakwaannya) Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” ( S. Asy Syam : 7-10 )

Merupakan petunjuk dari langit yang jelas dan nyata. Dimana Allah bersumpah dengan ‘Jiwa” (nafsu) serta penyempurnaannya. Makna penyempurnaannya berarti ciptaan yang disempurnakan. Bagai sebuah produk yang lolos sensor dan tiada tandingan atau sulit untuk disaingi. 
Jika ditarik benang merah sesuai dengan Cerminan dari sifat Dia sendiri “ Qiyamuhu binafsihi “ (berdiri sendiri dengan dirinya ). Pelajari tentang aqidahtul awam (sifat 20).

Di ilhamkan (ditanamkan) bibit kejahatan dan ketaqwaan, berarti jiwa manusia ini bermata/bercabang dua. Yang saling tarik ulur di dalam setiap sifat manusia. Yang sangat halus dan tipis (sulit) untuk membedakannya. Bagi orang-orang yang sudah sampai pada ilmu mengenal diri akan dengan mudah paham, apa yang kami maksud ini.

Bersesuaian dengan sabda Nabi Muhammad saw :
“Kita kembali dari perjuangan kecil menuju perjuangan besar, 
yaitu Perjuangan melawan hawa nafsu”

Mengapa dikatakan perang yang besar, karena musuh (nafsu) ini sangat sulit dikalahkan. Begitu lihai dan pintarnya ia mengatur strategi. Dan begitu canggihnya ia menyusuf pada setiap amal perbuatan. Hingga kita sebagai lawannya tidak menyadari dan tahu bahwa ia (nafsu) telah menguasai dan mengalahkan diri kita. Ia ahli menyamar, bisa menjadi amal baik, bisa berada pada ibadah. Untuk mendeteksi dan menaklukkan ia, kita membutuhkan ILMU dan pertolongan dari Allah Ta’ala.

---> jangan memberi komentar sebelum memahaminya.....
Di khususkan bagi Para Pencari..... Kebahagiaan Dunia & Akhirat..
Ilmu untuk disebarkan & disampaikan....bukan untuk di debatkan

bersambung ke.... 
7 Tingkatan Nafsu

Kisah Penciptaan Akal VS Nafsu

Dalam sebuah kitab karangan 'Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyi, seorang ulama yang hidup dalam abad ke XIII Hijrah, menerangkan bahawa sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan AKAL, 

maka Allah S.W.T telah berfirman :"Wahai akal menghadaplah engkau." Maka akal pun mengadap kehadapan Allah S.W.T., kemudian Allah S.W.T berfirman : "Wahai akal berbaliklah engkau!", lalu akal pun berbalik.
Kemudian Allah S.W.T. berfirman lagi : "Wahai akal! Siapakah aku?". 
Lalu akal pun berkata, "Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang daif dan lemah."
Lalu Allah S.W.T berfirman : "Wahai akal tidak Ku-ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau."

Setelah itu Allah S.W.T menciptakan NAFSU, dan berfirman : 
"Wahai nafsu, mengadaplah kamu!". Nafsu tidak menjawab sebaliknya mendiamkan diri. 
Kemudian Allah S.W.T berfirman lagi : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". 
Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau."
Setelah itu Allah S.W.T menyiksanya dengan neraka jahim selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya. 
Kemudian Allah S.W.T berfirman: "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". 
Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau."

Lalu Allah S.W.T menyiksa nafsu itu dalam neraka Juu' selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan maka Allah S.W.T berfirman:
"Siapakah engkau dan siapakah Aku?". 
Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata, " Aku adalah hamba-Mu dan Kamu adalah tuhanku."

Dalam kitab tersebut juga diterangkan bahwa dengan sebab itulah maka Allah S.W.T mewajibkan puasa.

Dalam kisah ini dapatlah kita mengetahui bahawa nafsu itu adalah sangat jahat oleh itu hendaklah kita mengawal nafsu itu, jangan biarkan nafsu itu mengawal kita, sebab kalau dia yang mengawal kita maka kita akan menjadi musnah.

insya Allah manfaat....... silahkan di-share...... ilmu harus disebarkan.... jgn lupa klik--- bergabung dgn motivaqolbi - roads of light

Guru Spiritual

Siapakah Guru spiritual? Guru spiritual adalah seorang guru yang membimbing kita ke jalan Sayyidina Muhammad saw hingga sampailah ia ke hadhratullah, bisa dari kalangan Usytadz, Kyiai/Ulama ataupun Habaib (keturunan Rasulullah SAW). 

Bagaimana agar tidak tersesat dalam mencari guru spiritual? Mudah saja. Bergaulah dengan orang-orang yang mencintai Sayyidina Muhammad SAW. Bertemanlah dengan para Ulama yang mengamalkan ilmunya. Duduklah di Majelis Majelis Taklim, Majelis Dzikir , Majelis Maulid Nabi SAW dan Majelis Majelis mulia lainnya. 

Cintailah orang yang mencintai Allah dan Sayyidina Muhammad SAW, walau tidak kita kenal secara dhohir, barangkali terpisah jarak dan waktu yang jauh, akan Allah SWT pertemukan dengan orang-orang shalih di kota kita 

Bila sudah dapat apakah guru spiritual kita mempunyai ilmu yang bersambung hingga ke Rasulullah SAW?

Keindahan Dalam Pasrah

The Spirituality of Imperfection
Sa'ad bin Waqqash, seorang sahabat Nabi SAW, yang telah bertahun-tahun buta dan tinggal di Mekah, yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang ingin didoakannya. Ia tidak mendoakan setiap orang, tetapi bagi yang diberkati dengan doanya merasa hidupnya menjadi lebih baik, dan urusannya menjadi lebih lancar.
Abdullah bin Sa'ad (anaknya) melaporkan, "Aku pergi menemuinya. Ia baik sekali kepadaku dan mendoakanku. Waktu kecil aku sering kali penasaran, jadi aku bertanya kepada ayahku, Doa ayah untuk orang lain selalu diijabah, tapi mengapa ayah tidak mendoakan supaya disembuhkan dari kebutaan? Sahabat Nabi itu barkata, "Kepasrahan kepada kehendak Tuhan lebih baik daripada kesenangan pribadi karena bisa melihat lagi."
Kisah itu ditemukan dalam buku tulisan ahli sejarah Ernest Kurtz dan penulis Katherine Ketcham, The Spirituality of Imperfection. Di balik ketidaksempurnaan, dibalik sakit dan musibah yang berkepanjangan selalu ada spiritualitas. Orang Inggris punya peribahasa every cloud has a silver lining. Semua awan kelabu selalu ada garis-garis peraknya. Semua kegelapan ada titik cahayanya. Di Semua kekurangan selalu ada cahaya rohaniahnya. Sa'ad memilih untuk tidak berdoa buat kesembuhan matanya. Ia menemukan dalam kebutaan itu nikmat kepasrahan kepada Allah. Pasrah total. Ia tahu bahwa di balik semua peristiwa ada rencana Illahi yang tidak diketahuinya, yakin bahwa kehendak Illahi pasti lebih baik dari kehendaknya. Boleh jadi ia juga sudah mencoba berdoa agar matanya sembuh kembali. Tuhan tidak memenuhi doanya. Mungkin mula-mula ia meradang, ingin memaksakan kehendaknya. Tapi dalam kesunyian dan perenungan, ia menemukan keindahan kepasrahan. "Sesungguhnya kepatuhan sejati di sisi Allah adalah kepasrahan." (Ali Imran: 19).

Betapa seringnya kita berdoa untuk memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Kita memperlakukan Tuhan sebagai pembantu kita. Kita ingin Allah segera menyembuhkan penyakit kita, menyelamatkan anak kita, membalas dendam kita, menaikkan penghasilan kita, membayarkan utang-utang kita, mengisi jawaban pada tes kita, dan lain-lainnya, bila Tuhan lambat menjawab, kita marah.
Ingin saya mengingatkan kamu pada masa kecilmu. Bukankah pernah kamu tidak henti-hentinya meradang, menangis dan marah kepada ibumu karena dilarang bermain dan dipaksa belajar. Kehendakmu bertentangan dengan kehendak ibumu. Sekarang setelah dewasa kita masih anak kecil dihadapan Tuhan. Kita masih kecewa dan marah kepada Yang Maha Kasih karena ia tidak memenuhi kehendak kita. Seperti dahulu ketika kita meragukan apakah ibu betul sayang kepada kita? Sekarang kita juga meragukan apakah Tuhan betul Maha Kasih dan Maha Sayang? Semuanya karena kehendak kita bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Tetapi kadang-kadang anak kecil lebih bijak dari kita. Pisahkan seorang bayi dari ibunya. Ia pasti menangis, makin lama makin keras. Tangisannya adalah panggilan agar ibunya datang. Jika tangisannya tidak berjawab, tangisnya akan berhenti. Ia menderita kesedihan. Jika ibunya tidak muncul juga, ia mulai menerima. Ia pasrah. Ia bukan saja berhenti menangis, ia juga berhenti bersedih. Ia akan mengalihkan perhatiannya kepada siapa saja yang bisa menjadi pengganti ibunya. Dan kebahagiannya pulih kembali. Kearifan anak-anak itulah yang dihayati oleh Sa'ad.
Ada makna rohaniah di balik dunia yang tampak tidak sempurna seperti yang kita inginkan. Ada spiritualitas dibalik ketidaksempurnaan. Ada kehendak Tuhan yang lebih indah di atas kehendak kita. Pasrahkan dirimu kepada keluasan Kasih-Nya. Katakanlah, "Tidak akan menimpa kita musibah kecuali yang sudah Allah tentukan bagi kita. Dialah Pelindung kita dan kepada Allah jua orang-orang beriman pasrah sepenuhnya." (At-Taubah: 51)
Sumber: KH. Jalaluddin Rakhma

Yaqin 1

Ada baiknya kami jelaskan, apa sebenarnya yakin itu! yang berdasarkan keterangan ulama’-ulama’ salafush sholihin, yaitu :
  1. Yaqin adalah keadaan yang dapat menentramkan hati tanpa keragu-raguan dalam segala tindakan.
  2.  Bahwa keyakinan itu adalah suatu ilmu yang tidak sesatkan angan-angan dan tidak dicampuri keragu-raguan.
  3. Bahkan keyakinan itu adalah Nur Cahaya yang dijadikan oleh Allah di dalam hati hambanya sehinga dengan bantuan “yaqin” itu dapat jelas baginya segala perkara yang ghaib. (Iqazdul Himam)
Imam Junaidi Al Baghdadi r.a berkata: “Yakin itu menghilangkan keraguan pada ketika jelasnya yang ghaib”. Beliau juga berkata: “Bahwa yakin itu, ialah ketetapan ilmu yang tidak berputar-putar dan tidak terombang-ambing serta tidak berubah dalam hati”. (Arrisalatul Qusyairiyah)

Dan berkata Abu Bakar Al-Waraq: “Bahwa yakin itu adalah kerajaannya Qalbu dan dengan keyakinan itulah menjadi sempurnanya Iman dan yakin itu pulalah kunci makrifatulloh”

Firman Allah Ta’ala (Q.S. Al Baqarah:4)
“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

Yakin ialah kepercayaan yang Kuat dengan tidak dicampuri keraguan sedikitpun. Akhirat lawan dunia. kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia berakhir. yakin akan adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah dunia berakhir.

Bahwa “Yakin” itu adalah Iman. Tetapi tidaklah tiap “iman” itu adalah yakin, karena iman itu kadang-kadang dapat dimasuki “Ghaiflah/kelalaian". Sedangkan yakin tidak bisa dimasuki kelalaian.

Rasulullah saw bersabda: “Yang sangat aku takuti diantara ketakutan terhadap umatku, telah lemahnya keyakinannya. Bahwa lemahnya keyakinan itu adalah karena terdorong kepada orang-orang yang lupa agamanya dan karena bergaul orang jahat, bersifat kasar dan berkepala batu.”

Tingkatan YAQIN dan makrifat atasnya :

a. Makrifat Atas Ilmul Yaqin.
Firman Allah (S. At Takatsur:5)
"Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan (ilmu) yang yakin,
Pengertiannya mereka dalam keadaan mencari kebenaran dengan jalan akal pikiran. Misalnya kita kenal Udin SH salah seorang ahli hukum, karena Udin memakai gelar SH. Gelar SH ini memberikan keyakinan kita dengan pandangan ilmu, bahwa Udin adalah ahli hukum (meskipun belum dilihat bukti dengan kasat mata)
Dengan kata lain diyakininya kebenaran berdasarkan dalil yang dapat diterima oleh akal pikiran, dalam tarap seperti ini, dinamakan makrifat atas ilmul yakin.


b. Makrifat Atas Ainul Yaqin
Firman Allah (S. At Takatsur:7)
“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata/ 'ainul yaqin”.
'Ainul yaqin artinya melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat.
Pengertian ayat tersebut mereka dalam keadaan mencari kebenaran dengan penyaksian mata. Misalnya kita kenal Udin SH itu sebagai ahli hukum, bukannya sekedar ia mempunyai gelar SH, tetapi dengan jalan kita telah membaca buku karangannya tentang ilmu hukum. Dengan jalan ini keyakinan kita menjdi lebih kuat, karena terdukung dengan pandangan lahiriyah maupun pandangan bathiniyah bahwa Udin SH adalah ahli hukum.

c. Makrifat Atas Haqqul Yaqin.
Firman Allah Ta’ala 
Inna Haadzaa Lahuwa Haqqul Yaqiin
“ Bahwa sesungguhnya ini adalah benar-benar kenyataan/haqqul yaqin”.
Untuk mempermudah pengertian, perumpamaan Udin SH.:

1. Kita kenal ilmunya Udin SH itu karena ia memakai gelar SH, namun ilmunya itu kita tidak lihat dengan mata kepala.
2. Kita kenal ilmunya dengan jalan kita melihat/membaca karangannya tentang ilmu hukum. Jelasnya kita telah melihat dengan mata telanjang bahwa Udin, memang ahli hukum karena tulisannya itu.
3. Kita kenal ilmunya dengan kebenaran yang hakiki, karena kita menerima ilmunya tanpa perantara lagi. Kita bermusyahadah, berpandang-pandangan dengan dia. Inilah yang dinamakan Makrifat atas Haqqul Yaqin.

MANUSIA dalam DUNIA MATERI & SPIRITUAL

Dunia materi pada dasarnya diwakili oleh pikiran-pikiran atau keinginan-keinginan, sedangkan dunia spiritual diwakili oleh hati nurani atau qolbi. Dimana keduanya mempunyai tujuan yang sangat beda.

Dunia materi yang digerakkan oleh pikiran selalu menuntut pemuasan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah. Dalam pencapaiannya sering menerjang segala cara. Ambisi dan emosi menjadi tuhan bayangan. Hingga melahirkan sebuah watak atau sifat kerakusan, kebencian, iri hati dan penipuan. Lambat laun manusia-manusia yang berkiblat pada pikiran, akan jatuh pada kegersangan jiwa. Hidupnya tidak pernah tenang. Jiwanya goncang dengan segala materi yang di dapat, tidak akan dapat menyelesaikan satupun masalah jiwanya. Jika pada saatnya pikiran (mind) tidak bisa menampung, maka timbullah efek ke saraf dan menyerang tubuh, jadilah yang dinamakan sakit.

Dunia spiritual (jiwa) yang dimotori oleh hati (qolbi) selalu mencari pemuasan kebutuhan jiwa. Yaitu ketenangan, kebahagiaan, kedamaian dan cinta. Dalam pencapaiannya tidak bisa diperoleh dari materi walaupun sebenarnya nantinya akan diperlukan. Tetapi pada intinya pemuasan jiwa diperoleh dengan pendekatan diri kepada Allah. Jalan pembantunya adalah ilmu. Ilmu apakah yang dimaksud yaitu ilmu yang khusus mengkaji tentang jiwa atau batin serta ilmu ketuhanan.

Untuk itu kami yang tergabung dalam Institute Qolbi (IQ) akan memberikan setitik pengetahuan, guna pencapaian menjadi manusia yang sempurna, tanpa terikat oleh kematerian dan keghoiban.
Ketahuilah Manusia adalah ciptaan yang paling sempurna, dari sekian ciptaan Allah, manusia yang diberi kelengkapan dari seluruh aspek. Intinya manusia adalah makhluk jasmaniah dan rohaniah. Dalam kehidupan, manusia sebagai makhluk dualitas mempunyai potensi untuk berhubungan dengan dunia materi dan dunia spiritual (jiwa).