Sabtu, 20 Juli 2013
Keindahan Dalam Pasrah
Abdullah bin Sa'ad (anaknya) melaporkan, "Aku pergi menemuinya. Ia baik sekali kepadaku dan mendoakanku. Waktu kecil aku sering kali penasaran, jadi aku bertanya kepada ayahku, Doa ayah untuk orang lain selalu diijabah, tapi mengapa ayah tidak mendoakan supaya disembuhkan dari kebutaan? Sahabat Nabi itu barkata, "Kepasrahan kepada kehendak Tuhan lebih baik daripada kesenangan pribadi karena bisa melihat lagi."
Kisah itu ditemukan dalam buku tulisan ahli sejarah Ernest Kurtz dan penulis Katherine Ketcham, The Spirituality of Imperfection. Di balik ketidaksempurnaan, dibalik sakit dan musibah yang berkepanjangan selalu ada spiritualitas. Orang Inggris punya peribahasa every cloud has a silver lining. Semua awan kelabu selalu ada garis-garis peraknya. Semua kegelapan ada titik cahayanya. Di Semua kekurangan selalu ada cahaya rohaniahnya. Sa'ad memilih untuk tidak berdoa buat kesembuhan matanya. Ia menemukan dalam kebutaan itu nikmat kepasrahan kepada Allah. Pasrah total. Ia tahu bahwa di balik semua peristiwa ada rencana Illahi yang tidak diketahuinya, yakin bahwa kehendak Illahi pasti lebih baik dari kehendaknya. Boleh jadi ia juga sudah mencoba berdoa agar matanya sembuh kembali. Tuhan tidak memenuhi doanya. Mungkin mula-mula ia meradang, ingin memaksakan kehendaknya. Tapi dalam kesunyian dan perenungan, ia menemukan keindahan kepasrahan. "Sesungguhnya kepatuhan sejati di sisi Allah adalah kepasrahan." (Ali Imran: 19).
Ingin saya mengingatkan kamu pada masa kecilmu. Bukankah pernah kamu tidak henti-hentinya meradang, menangis dan marah kepada ibumu karena dilarang bermain dan dipaksa belajar. Kehendakmu bertentangan dengan kehendak ibumu. Sekarang setelah dewasa kita masih anak kecil dihadapan Tuhan. Kita masih kecewa dan marah kepada Yang Maha Kasih karena ia tidak memenuhi kehendak kita. Seperti dahulu ketika kita meragukan apakah ibu betul sayang kepada kita? Sekarang kita juga meragukan apakah Tuhan betul Maha Kasih dan Maha Sayang? Semuanya karena kehendak kita bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Tetapi kadang-kadang anak kecil lebih bijak dari kita. Pisahkan seorang bayi dari ibunya. Ia pasti menangis, makin lama makin keras. Tangisannya adalah panggilan agar ibunya datang. Jika tangisannya tidak berjawab, tangisnya akan berhenti. Ia menderita kesedihan. Jika ibunya tidak muncul juga, ia mulai menerima. Ia pasrah. Ia bukan saja berhenti menangis, ia juga berhenti bersedih. Ia akan mengalihkan perhatiannya kepada siapa saja yang bisa menjadi pengganti ibunya. Dan kebahagiannya pulih kembali. Kearifan anak-anak itulah yang dihayati oleh Sa'ad.
Ada makna rohaniah di balik dunia yang tampak tidak sempurna seperti yang kita inginkan. Ada spiritualitas dibalik ketidaksempurnaan. Ada kehendak Tuhan yang lebih indah di atas kehendak kita. Pasrahkan dirimu kepada keluasan Kasih-Nya. Katakanlah, "Tidak akan menimpa kita musibah kecuali yang sudah Allah tentukan bagi kita. Dialah Pelindung kita dan kepada Allah jua orang-orang beriman pasrah sepenuhnya." (At-Taubah: 51)
Sumber: KH. Jalaluddin Rakhma
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar